Di Negeri yang ramai doa, tapi miskin logika. Yang waras dikira durhaka

ilustrasi orang miskin & orang kaya. (Gemini)

Di negeri yang ramai doa tapi miskin logika, suara yang jernih sering terdengar seperti ancaman. Orang lebih suka langit yang dijanjikan daripada bumi yang harus diperjuangkan. Mereka mengangkat tangan tinggi-tinggi, tetapi enggan membuka mata lebar-lebar. Mereka fasih mengutip takdir, tetapi gagap menyebut sebab-akibat.

Logika adalah musuh bagi mereka yang ingin berkuasa tanpa diperiksa. Sebab logika bertanya: mengapa miskin di tanah kaya? Mengapa lapar di lumbung padi? Mengapa rakyat disuruh sabar sementara penguasa sibuk menimbun? Pertanyaan-pertanyaan itu berbahaya — bukan karena salah, melainkan karena benar.

Di negeri seperti itu, yang waras sering dikira durhaka. Orang yang meminta bukti disebut kurang iman. Orang yang menuntut keadilan dituduh mengganggu ketertiban. Seolah-olah berpikir adalah dosa, dan patuh tanpa nalar adalah kebajikan.

Padahal kemerdekaan tidak lahir dari doa yang pasrah, melainkan dari pikiran yang merdeka. Bangsa yang besar bukan bangsa yang paling banyak berlutut, tetapi yang paling berani berdiri di atas akalnya sendiri. Tanpa logika, doa hanya menjadi pelarian. Tanpa keberanian berpikir, iman mudah dijadikan alat kekuasaan.

Dan sejarah tidak pernah digerakkan oleh mereka yang diam.

No comments

Powered by Blogger.